LAPORAN PRAKTIKUM FLUIDA RESERVOIR

LAPORAN MODUL I
PENENTUAN GAS SPESIFIC GRAVITY DAN
OIL SPESIFIC GRAVITY

Analisis
Dalam percobaan ini terdapat perbedaan SG antar sesam ZRD crude oil ataupun sesama nglobo crude oil
SG dari ZRD crude oil adalah
dikur dengan picnometer 
diukur dengan hydrometer 
galat yang terjadi adalah

%

SG dari Nglobo crude oil adalah

dikur dengan picnometer 
diukur dengan hydrometer 
galat yang terjadi adalah

%

Dalam perhitungan SG terdapat galat karena pengukuran dengan alat yang berbeda mempunyai tingkat ketelitian yang berbeda pula.
Menurut saya untuk pengukuran Specific Gravity lebih baik menggunakan alat hydrometer. Beberapa analsis akan saya uraikan di bawah
Dalam percobaan, pengukuran menggunakan pycnometer membutuhkan keadaan suhu yang sama untuk membandingkan densitas suatu crude oil dengan densitas air, sedangkan ketika kedua zat tersebut dipanaskan sangat sulit menyamakan kedua temperatur. Hal ini dikarenakan kedua zat memiliki kalor jenis yang berbeda.
Ketika temperatur sudah sama, masa yang diukur pun berbeda-beda tiap dilakukan pengukuran. Hal itu dikarenakan kondisi picnometer yang tidak terlalu bersih saat dilakukan pengukuran ke dua dan ketiga.
Pengukuran hydrometer menggunakan prinsip hukum archimedes yang menggunakan besaran densitas dari crude oil itu sendiri. Dalam hal ini densitas crude oil tidak perlu diukur dalam suhu tertentu, yang terpenting adalah posisi hydrometer yang vertikal dan sudah stabil. Dalam pengamatan pun terlihat bahwa ketiga data yang diambil saat percobaan dengan hydrometer selalu sama.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik antara lain:
a. Spesific grafity dari ZRD crude oil adalah
Spesific gravity dari Nglobo crude oil adalah
b. Pengaruh temperatur terhadap SG crude oil dalam hal ini tidak langsung ke SG tetapi pengaruh ke densitas. Hal ini terjadi karena saat temperatur meningkat, volume crude oil dan air meningkat tanpa disertai peningkatan masa. Tetapi peningkatan volume crude oil dan air berbeda karena koefisien muai yang berbeda. Temperatur berbanding terbalik dengan densitas, sedangkan densitas berbanding lurus dengan SG. Maka SG berbanding terbalik dengan temperatur.

Daftar Pustaka
William D. McCain Jr., “The Properties of Petroleum fluid”. Second Edition, Tulsa Oklahoma, 1990

Van Ness H.C. “Introduction to Chemical Engineering Thermodynamic”. Seventh Edition, McGraw Hill, Singapore 2005

http://www.thesolar.biz/Measuring_specific_gravity_article.htm

http://www.csgnetwork.com/sgvisc.html

MODUL II
EMULSI

Analisis
Pada grafik yang di agitasi dengan kecepatan 250 rpm, 500 rpm, dan 750 rpm, emulsi akan semakin stabil bila diberi agitasi pada putaran 750 rpm. Hal ini disebabkan karena semakin besar agitasi akan semakin lama pula emulsi memecah, atau dengan kata lain emulsi akan semakin stabil, karena dengan agitasi yang kuat, maka akan terbentuk droplet yang lebih kecil ukurannya, sehingga memperlama terjadinya flokulasi dan coalesense . Namun, pada praktikum kali ini, beberapa data masih terdapat ketidakakuratan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor utama adalah waktu selang pada saat agitasi berhenti, diperlukan waktu untuk memindah emulsi dari gelas kimia ke gelas ukur, sehingga ini mempengaruhi perhitungan waktu. Kemudian, pengukuran batas volume air yang kurang tepat karena terdapat banyak gelembung-gelembung yang mempengaruhi pengelihatan dan pemecahan emulsi yang tidak merata secara horisontal.
Pada grafik volume air terhadap waktu pada percobaan pengaruh demulsifier dan pemanasan terhadap kestabilan emulsi dapat diamati bahwa pada pemanasan, volume air konstan mencapai 38 cc pada menit ke-12. Pada pemberian demulsifier, volume air konstan mencapai 37 cc pada menit ke-18. Sedangkan yang didiamkan tanpa pemanasan maupun penambahan demulsifier mencapai volume air konstan pada menit ke- 20. Besarnya volume air terhadap waktu mengindikasikan kecepatan pemisahan emulsi. Maka dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan pemanasan lebih cepat mengalami pemisahan, disusul dengan pemberian demulsifier. Sedangkan jika didiamkan akan lebih lama mencapai pemisahan. Hal ini didasari bahwa ketika kita melakukan pemanasan, maka energi akan masuk ke dalam sistem emulsi tersebut sehingga meningkatkan energi kinetik dari droplet yang akan mengakibatkan peluang terjadinya tumbukan antar droplet makin tinggi. Dan jika peluang tumbukan antar droplet itu makin tinggi, maka kemungkinan terjadinya flokulasi dan coalesense makin tinggi.

KESIMPULAN
Pada percobaan ini, dapat disimpulkan bahwa emulsi terbentuk karena adanya beberapa faktor, salah satunya adalah agitasi. Semakin cepat agitasi, maka emulsi yang terbentuk semakin stabil. Pada pemecahan emulsi yang dilakukan pada percobaan, dapat disimpulkan bahwa penambahan demulsifier dan pemanasan pada emulsi akan mempercepat pemecahan emulsi daripada jika hanya didiamkan.
Pengetahuan tentang emulsi di dunia perminyakan sangatlah penting untuk dipelajari, karena kita bisa meningkatkan oil recovery dengan membentuk emulsi minyak dalam air di reservoir dan jika kita ingin memecah emulsi minyak dalam air di separator, maka kita bisa menggunakan cara yang lebih efektif dan efisien sehingga hasil produksi minyak bisa optimal.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.spe.org/ejournals/jsp/journalapp.jsp?pageType=Preview&jid=EDC&mid=SPE-105858-PA

Petrolite corp, Process for Breaking petroleum emulsion, 1952, US Patent and Trademark officer

http://www.hielscher.com/id/coatings_01.htm

http://www.associatedcontent.com/article/489747/stimulating_paraffinic_oil_production.html

MODUL III
PENGUKURAN VISKOSITAS DENGAN
REDWOOD VISCOMETER

Analisis
Percobaan modul III “Pengukuran Viskositas dengan Redwood Viscometer” bertujuan untuk menentukan viskositas minyak pada berbagai temperatur serta untuk menghitung Indeks Viskositas sampel minyak. Prinsip dasarnya ialah mengukur waktu alir jatuh sampel minyak sebanyak 50 cc pada berbagai suhu percobaan (dalam percobaan ini digunakan temperatur 100oF, 140oF, 180oF, dan 210oF).
Redwood Viscometer ini mampu menentukan viskositas pada temperatur tinggi, sehingga amat baik untuk mengukur fluida yang memiliki viskositas tinggi, yang biasanya berupa crude oil dengan struktur komponen berat. Dibanding alat pengukur viskositas yang lainnya, kelebihan Redwood Viscometer ini adalah terletak pada ukuran water bath yang lebih kecil, sehingga waktu yang dibutuhkan air untuk mencapai temperatur pemanasan yang dikehendaki akan semakin cepat, serta pengontrolan temperatur mudah dilakukan.
Adapun media pemanas Redwood Viscometer ini menggunakan fluida air. Pemilihan air sebgai media pemanas bertujuan agar perubahan suhu pada penentuan waktu alir sampel, tidak berlangsung cepat berubah drastis dan signifikan. Untuk keakuratan data perhitungan selama waktu pengaliran sampel berlangsung, perubahan suhu harus dijaga konstan dan tidak boleh mengalami perubahan lebih dari 1%. Namun kekurangan media air ini terletak pada terbatasnya suhu pengamatan, yaitu hanya sampai 212oF (100oC) karena pada suhu tersebut media air akan berubah fasa menjadi uap.
Pada waktu kita menghitung waktu alir sampel yang mengalir melalui Redwood Viscometer maka yang perlu kita perhatikan adalah saat pertama kali kita mengukur waktu alir. Kita mulai mengukur waktu alir sampel ketika sampel mulai keluar dari Redwood Viscometer bukan ketika sampel jatuh di dalam flask. Hal ini dikarenakan jika kita mengukur waktu alir sampel ketika sampel tersebut jatuh di flask maka sampel tersebut telah memiliki kecepatan saat tepat menumbuk flask yang berarti sampel tersebut telah memiliki suatu energi yaitu energi kinetik sehingga dalam perhitungannya nanti kita harus mengkoreksi energi yang dimiliki oleh sampel tersebut dan itu tidak praktis.Pada percobaan ini pengukruan waktu alir sampel dilakukan dari temperatur yang rendah menuju ke temperatur yang tinggi. Jika melakukan dari temperatur yang tinggi ke rendah maka waktu yang diperlukan sangatlah lama untuk menunggu temperatur percobaan seperti yang kita inginkan dan hal itu sangat tidak efektif.
Grafik Hubungan suhu terhadap viskositas kinematik

Garfik Hubungan suhu terhadap viskositas Dinamik

Merujuk pada data hasil perhitungan, terlihat jelas bahwa pengaruh kenaikan temperatur akan menyebabkan viskositas fluida cairan akan berkuran. Secara analitis, kenaikan temperatur mengakibatkan volume fluida secara total akan ebrtambah karena pemuaian sehingga ruang gerak molekul-molekul fluida menjadi membesar dan fluiditasnya tinggi (makin mudah mengalir). Selain itu, kenaikan suhu menyebabkan pergerakan molekul fluida dan laju momentum molekulernya semakin cepat. Hal ini akan dapat melemahkan gaya tarik menarik antar molekul (kohesifitas antar molekul fluida), sehingga akan memperkecil tahanan suatu fluida yang berarti juga memperkecil viskositas.
Perhitungan viskositas kinematik Redwood Viscometer ini mengunakan faktor koreksi yang besarnya tergantung pada lamanya waktu pengaliran. Faktor koreksi ini berbea-beda untuk batas waktu pengaliran tertentu. Selain itu, pengaruh gaya gravitasi dalam percobaan ini (yang dapat menyebabkan sampel jatuh ke flask) juga diperhatikan (walaupun secara eksplisit tidak dimasukkan dalam percobaan) sehingga, hasil yang diperoleh menjadi lebih akurat.
Selain menentukan hal-hal di atas tadi, Redwood Viskometer dapat juga menentukan Indeks Viskositas(VI) Indeks Viskositas adalah suatu bilangan empirik yang mengindikasikan pengaruh perubahan temperatur terhadap viskositas sampel minyak. Semakin kecil Indeks Viskositas, maka perubahan viskostias yang terjadi akibat perubahan suhu semakin besar. Berdasarkan data yang didapat, kita menghitung Indeks Viskositas sampel dengan merujuk pada data tabel “Basic Value of L and H for Kinematic Viscosity” .
Timbulnya perbedaan hasil akhir yang didapat dalam percobaan dapat dimungkinkan terjadi oleh beberapa faktor. Diantara faktor itu yang bisa kita analisa dengan menganggap suatu asumsi umum, yaitu :
1. Ketidak maksimalan fungsi alat untuk bekerja secara akurat, diantaranya yaitu neraca digital . Hal ini bisa mengkaibatkan penimbangan picnotidak terlalu akurat (bisa dilihat data berat picno kosong yang perbedaan penimbagnannya cukup mencolok)
2. Tekann ruang saat percobaan yang berbeda, kita abaikan dalam percobaan ini. (tekanan ruang dianggap sama). Padahal seharusnya ada pengaruh tekanan terhadap viskositas.
3. Ada kemungkinan temperatur sampel selama pengaliran tidak dijaga konstan/mengalami perubahan lebih dari 1%.

Kesimpulan
Dari hasil praktikum diperoleh viskositas kinematik dan viskositas dinamik sampel minyak yang dianalisa yaitu ZRD dan jatibarang adalah sebagai berikut:
ZRD
Suhu (°F) Viskositas kinematik (cSt) Viskositas dinamik (cP)
100 8,53 7,7502
120 7,84 8,845216
140 8,20 8,495408
210 9,27 8,913411

Jati barang
Suhu (°F) Viskositas kinematik (cSt) Viskositas dinamik (cP)
100 8,53 7,7502
120 7,84 8,845216
140 8,20 8,495408
210 9,27 8,913411

Untuk viskositas index (VI) didapatkan:
VI ZRD = 1374
VI jatibarang = 1321

Daftar Pustaka
William D. McCain Jr., “The Properties of Petroleum fluid”. Second Edition, Tulsa Oklahoma, 1990

http://www.vicanpump.com/engineering_data/content_conversion_factors.htm

http://books.google.com/books?id=TD3TeErQD-oC&pg=PA51&lpg=PA51&dq=engler+viscosity&source=bl&ots=PnxIBMf1iF&sig=siT4AnGGp2HyoC4I3H0nXnpdPUc&hl=en&ei=F0fuSp2qCZGmswPZ0OjhBw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=7&ved=0CBgQ6AEwBjgK#v=onepage&q=engler%20viscosity&f=false

http://en.wikipedia.org/wiki/Viscosity

http://www.engineeringtoolbox.com/dynamic-absolute-kinematic-viscosity-d_412.html

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: